Perbedaan Antara ‘Aishiteru’ dan ‘Suki Desu Menurut Para Remaja Jepang


Salah satu ungkapan yang banyak orang ucapkan adalah “Aku mencintaimu” yang tentunya diucapkan kepada orang yang kita sukai. Namun untuk orang Jepang, cara yang paling umum untuk menyatakan rasa suka mereka terhadap orang yang mereka sukai adalah mengatakan “suki desu” atau jika ingin terdengar lebih maskulin, orang Jepang akan mengatakan “suki da!“

Tetapi itu bukan satu-satunya cara untuk memberi tahu seseorang bahwa Anda mencintai mereka. Ada juga kata “ai shiteiru“, yang juga berarti “Aku mencintaimu”. Beberapa buku mencoba untuk membedakan kedua dengan menerjemahkan “suki desu” sebagai “menyukai” dan “ai shiteiru” sebagai “cinta” karena Anda dapat menggunakan “suki desu” untuk mengekspresikan kesukaan untuk hal-hal seperti sebagai olahraga, makanan, atau anime.

Namun, jika Anda mengatakan “suki desu” kepada orang Jepang, mereka pasti tidak akan menganggapnya sebagai penegasan persahabatan atau rasa kekaguman, namun sebagai deklarasi ketertarikan secara romansa.


Memang benar bahwa kata “ai shiteiru” pada umumnya digunakan untuk menyatakan rasa cinta yang lebih substansial dan stabil. Bahkan untuk orang Jepang asli, perbedaan antara kedua ungkapan tersebut sulit untuk dibedakan, yang akhirnya hal ini menarik perhatian seorang pengguna Twitter bernama @TEMUNO_KOTO.

@TEMUNO_KOTO baru-baru ini melihat hasil survei (yang aslinya dilakukan pada tahun 2012) yang meminta siswa SMA Jepang mengatakan alasan mengapa mereka kehilangan keperawanan mereka, jawaban lebih dari satu diizinkan dalam survei ini. Ketika mereka ditanya tentang alasan terkuat mereka untuk melakukan aktivitas seksual pertama mereka, para remaja tersebut menjawab dengan:
● Aku mencintai (ai shiteiru) cowok/cewek tersebut
Remaja pria 33,5%, remaja wanita 27%
● Aku mencintai (suki desu) cowok/cewek tersebut
remaja pria 68,1%, remaja wanita 67,8%

Sementara sebagian besar siswa SMA yang sudah pernah melakukan aktivitas seksual siap untuk mengatakan “suki desu” kepada orang yang sukai, dimana hal itu jauh, jauh lebih sedikit daripada yang bersedia mengklasifikasikan perasaan mereka sebagai “ai shiteiru“.

Dan juga, meskipun citra mereka di media sosial populer namun mereka tidak nyaman untuk secara langsung mengekspresikan perasaan romansa mereka, remaja pria lebih mungkin untuk mengatakan hal tersebut sebagai cinta, yang disebut dengan istilah yang baik, yang mengarah pada pasangan pertama mereka.

Alasan lain yang tercantum dalam survei adalah:
● Saya ingin tahu tentang bagaimana rasanya
Remaja pria 44,1%, remaja wanita 20,4&
● Itu adalah pengalaman yang ingin saya alami
Remaja pria 33,5%, remaja wanita 17%
● Untuk bersenang-senang atau karena sedang mabuk
Remaja pria 1,1%, remaja wanita 1,4%
● Pasangan saya mengatakan dia benar-benar ingin saya melakukannya bersamanya
Remaja pria 5,3%, remaja wanita 1,4%
● Itu terjadi begitu saja
Remaja pria 5,9%, remaja wanita 15,6%

“Suki desu” dan “ai shiteiru” terdaftar sebagai kategori yang berbeda… artinya sangat dalam,” renung @TEMUNO_KOTO. Para netizen lain menimpali untuk menyuarakan keterkejutan mereka, betapa sedikit yang mengaku pengalaman pertama mereka menjadi hasil dari dorongan yang mabuk dan penuh semangat, serta lebih banyak remaja pria daripada remaja wanita yang mengatakan bahwa mereka kehilangan keperawanan mereka karena permintaan yang kuat dari pasangan mereka.

Kembali ke topik “ai shiteiru” vs “suki desu“, beberapa netizen merasa bahwa masa-masa SMA mungkin merupakan masa paling sulit untuk mengatakan “ai shiteiru“. Beberapa tahun lebih muda, dan Anda masih cukup naif untuk mengira cinta anak anjing untuk sesuatu yang pasti akan selamanya.

Saat Anda beberapa tahun lebih tua, dimana Anda memiliki pemahaman yang lebih baik tentang nilai kehidupan dan keyakinan Anda, yang dapat memberi Anda kepercayaan diri untuk mengatakan “ai shiteiru” ketika Anda menemukan seseorang yang diinginkan sebagai pasangan hidup Anda. Namun pada saat Anda berada di bangku SMA, Anda mungkin cukup dewasa untuk mengetahui bahwa terkadang hubungan Anda dengan orang yang disukai akan kandas suatu hari nanti, namun Anda tidak benar-benar mengerti mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Rasa yang Anda rasakan saat mengucapkan “suki desu“, secara komparatif, seperti tidak terdengar sebagai janji seumur hidup yang Anda ucapkan secara tulus dari hatimu bilang dibandingan ungkapan “ai shiteiru” dan karena masyarakat Jepang cenderung berbuat kesalahan dalam banyak hal (termasuk mendeklarasikan cinta), sehingga masuk akal bila mengucapkan “suki desu” dengan berlandaskan emosi yang kuat dalam dirinya sendiri, karena itu adalah ungkapan tanpa berkomitmen, dan oleh karena itu orang Jepang lebih sering menggunakan ungkapan tersebut.

Sumber: SoraNews

Next

Related